Mas Bro - Mba Sist, kali ini gue mau cerita (kali ini?? Kaya udah pernah cerita aja sebelumnya... Wong baru postingan pertama njir.. (kan panjang dalem kurungnya)), Oke kali ini gue mau cerita perjalanan gue ke Gunung Bromo sama Madakaripura. Gue yakin kalau Bromo lu udah pada tau itu gunung yang paling mainstream (ceelaah bahasa lu, sok banget ke-inggris-an), nah kalau Madakaripura udah pada tau belom? Belom kan? Belom pernah kesana kan? Hahahaha, gue donk udah pernah (yailaah, shombhoong beneer)
Perjalanan gue kali ini dimulai dari kota Probolinggo. Cukup unik juga, karena gue dan tiga orang temen gue lainnya (yang hobbynya meeting melulu, tiap kali sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, kerjaanya meeting melulu, mending meeting hasilin duit lah ini ngabisin duit. Hahaha. Penasaran kan meeting apaan (kagak, lagian siapa juga yang nanya) ya bodo amat, terserah gue lah). Uniknya adalah, walupun kita tinggal hampir berdekatan di sekitaran Jakarta, tapi start pointnya beda-beda. Dan masing-masing sebelumnya sudah melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Unik kan? (Biasa aja..!!)
Oke, setelah bertemu di Stasiun Probolinggo pada hari dan jam yang sudah ditentukan sebelumnya, kita berempat berencana menuju ke Terminal Probolinggo untuk menyambung angkutan umum ke Gunung Bromo, tepatnya ke desa Cemoro Lawang. Dari depan Stasiun Kereta Api Probolinggo naik Angkot warna hijau ke arah barat kalo gak tau arah barat (dasar orang kota, taunya kanan sama kiri doang) sejak keluar dari stasiun, lu harus nyeberang jalan, baru naik angkot tujuan Terminal Banyuangga di Probolinggo (yaiya lah, kalo Terminal Kampung Rambutan di Jakarta namanya).
Biaya angkotnya sekitar lima sampai enam ribu Rupiah. Nah ternyata dari depan Stasiun tidak hanya kita berempat saja yang mau ke Bromo, kita barengan sama turis asing yang juga mau ke Bromo via Probolinggo, dan mereka juga tau kalo kita mau ke bromo (yoii kita ngobrol donk sayangnya aja kita udah lulus, kalo diliat guru/dosen bahasa inggris mah bisa langsung dapet A tuh nilai kita).
Ternyata selama di dalam angkot, sang supir merasa terancam oleh kehadiran kita turis lokal ini. Lah mang napa? Jadi ternyata sang supir ini khawatir kalau kita memberi tahu cara-cara ke Bromo dengan menggunakan angkutan umum yang baik dan benar (rajin menabung dan tidak sombong (apaan dah lu..)). Dan benar saja sang supir merencanakan menurunkan sang turis ini ke agen perjalanan rekanan sang supir angkot, mungkin sang supir dapat persenan kali ya dari tiap turis yang dia antar kesana. Walaupun terlihat membantu, namun cara ini mengandung banyak paksaaan, ya lu tau kan kalo segala sesuatu yang dipaksa gak enak, lemesin aja coy, nikmatin aja (apaan lagi sih nyooong..) Ya iyalah dipaksa, mereka tidak diberikan informasi yang jelas dan jujur cara menuju Bromo. Alhasil kita juga diturunin disitu pulak bersama turis asing tersebut.
Benar saja, di agen perjalanan tersebut, mereka ditawari macam-macam dengan sedikit paksaan dengan cara menakuti-nakuti bahwa disana tidak akan ada penginapan dan transportasi lagi kalau tidak pesan dari mereka. Begitu juga dengan kami, ditawari macam-macam, namun karena kita sudah mempersiapkan dengan matang (sampe berasa hampir gosong malah) dari Jakarta, puji Tuhan tidak mempan lah segala tipu muslihat yang mereka lancarkan. Pokoknya kita cuma butuh transportasi ke Cemoro Lawang, gak usah nawar-nawarin yang lain deh.! Dengan berbagai cara, tawar menawar harga antara kita dan agen perjalanan tersebut bisa berkurang sekitar 20-25% dari harga semula. Setelah harga disepakati tentu saja langsung pilih tempat duduk. Kalau gak salah per kakinya dihargai sekitar 30 ribu Rupiah, karena masing-masing orang punya 2 kaki jadi 60ribu per orang (Jayus bangeett siih lu..!). Kebetulan gue dan seorang teman gue bisa memilih duduk dimuka (di depan kelees, lu kira naik kuda bisa duduk dimuka (tapi naik kuda juga kan nggak duduk dimuka, nah siapa tuh yang ngajarin duduk dimuka kuda)).
Selama perjalanan sang kuda besi (yaelah gak usah pake istilah aneh -aneh deh, bilang aja mini bus atau elf) (iya daah seterah elu), sang mini bus melaju dengan tidak santai. Gue bukannya gak suka sama kecepatan tinggi, tapi gak percaya sama ini pintu mobil, beneran bisa kekunci atau nggak. Kan kalo dia lagi belok tiba-tiba pintu kebuka, bisa-bisa masuk berita gue.
Denger-denger dari orang yang udah pernah ke bromo sih katanya jalan ke bromo itu bahaya, banyak kelokan, kanan kiri jurang, susah liat di depan itu belokan ke kiri atau kanan, pokoknya kalo gak hapal daerah sana bahaya banget deh buat nyetir sendiri. Tapi entah guenya yang kagak ngerti bahaya atau karena ini siang hari atau karena beda jalur, jalur yang gue lihat sih memang bener banyak kelokan tapi ya belokannya masih kaya di puncak bogor koq, bahkan sepertinya lebih berbahaya di jalan menuju Tomohon di sulawesi utara sana karena banyak banget blind spotnya. Kalau yang ini sih kalau gak ngebut ya gak bahaya-bahaya banget (lagian kayanya gak bisa ngebut deh, wong jalannya kecil begitu).
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam bersama turis-turis asing, sampailah kita di desa Cemoro Lawang. Setelah sampai di Cemoro Lawang, sang supir mengarahkan kami semua beserta mini busnya ke daerah penginapan dan salah satu hotel yang cukup terkenal disana. Naah, begitu mau masuk ke arah hotel, tiba-tiba (zoom in - zoom out - zoom in - zoom out) lah koq ada pos pembayaran. Dari informasi-informasi yang kita dapatkan selagi masih di jakarta sih, gak ada tuh pungutan biaya (atau kita yang terlalu bodoh dan malas nyari ya) kalau masuk ke bromo. Dan lagipula biayanya termasuk mahal sebagai biaya di luar dugaan.
Rombongan turis asing yang dibelakang sih pada gak rela bayar segitu besar untuk cari penginapan aja, walaupun memang untuk turun ke lautan pasir bromo harus lewatin pos tersebut (ya salah sendiri bikin penginapan di tempat yang harus bayar dulu), nah turis asing aja gak mau apalagi gue.! Jadi kita bilang aja bahwa kita tamunya Pak Sa**. Karena memang masalah booking hotel dan jeep yang dipesan dari Jakarta beliaulah yang membantu kita. Dan setelah sampai sana kita baru tau, ternyata Pak Sa** adalah orang yang cukup disegani disana, jadi begitu kita bilang kita tamunya Pak Sa**, orang-orang di pos tersebut langsung mempersilahkan kita lewat tanpa dimintai bayaran. Maka sampailah kita di Hotel Bromo Permai 1 tanpa harus bayar masuk. What a lucky us.. Hahaha.
Dan memang tidak sia-sia kita memilih hotel ini, karena selain sudah didalam kawasan Bromo Tengger Semeru, view dari halaman hotel ini adalah lautan pasir lengkap dengan Gunung Bromo dan Gunung Batok dan Gunung Semeru di kejauhan (kalau lagi gak berkabut). Sayang aja waktu kita kesana sore hari kabutnya udah turun. Tapi kan ada kabutnya aja udah bagus gini, apalagi gak pake kabut coy.
![]() |
| Niih pemandangan kalo lo keluar kamar terus jalan sedikit ke arah jalanan. |
Kalau kebanyakan orang pergi ke Bromo Cuma untuk lihat matahari terbit, kalau datang ke Cemoro Lawang, sempet-sempetin deh menginap dari siang sampai check out siang juga. Karena yang bagus dari bromo bukan Cuma pas Sunrise aja, tapi Sunset pun bromo tidak kalah cantiknya.
Sore-sorenya kalau lu udah sedikit istirahat, udah isi perut lu yang sedari tadi keroncongan (mending bagus bunyinya, bikin malu iya) lu bisa turun ke lautan pasirnya hanya dengan jalan kaki cuy. Gak perlu sewa kuda, jeep, atau ojeg. Ya tapi kalo lo males ya terserah lo dah, mau sewa yang mana. Yang pasti gak jauh, deket. Cuma pas baliknya aja jalannya nanjak abis. Gak ada napasnya.
Nih nikmatin dah pemandangan di Bromo pas sore-sore.
Gimanaa keren kan, bagus kan, jadi pengen kesana sore-sore kan? Kalo jalan-jalan coba ajak gue ya, kali aja gue mau kesana lagi.
Ceritanya gk berenti sampe sini aja. Tungguin cerita gue selanjutnya tentang moment yang paling ditunggu di bromo dan tentang madakaripura.
oh ada videonya juga nih











